Bus Transjakarta mulai digunakan pada tahun

Bus Transjakarta, salah satu moda transportasi di DKI Jakarta.

INFO BISNIS — Beroperasi sejak 2004, bus TransJakarta menjadi salah satu moda transportasi yang sangat diandalkan oleh warga Ibu Kota Jakarta. Seiring berkembangnya waktu, Pemprov DKI melalui BUMD PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) terus berbenah, agar moda transportasi tersebut dapat melayani warga Jakarta dengan sebaik-baiknya. 

Rute baru

Saat ini, PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) telah membuka rute baru, Koridor 10F yang melayani Stasiun LRT Pegangsaan Dua – Sunter. 

Dalam pengoperasian rute baru itu, dapat memangkas waktu perjalanan pengguna bus TransJakarta. Seorang warga, Angga (22), mengatakan sudah merasakan naik bus TransJakarta Koridor 10F yang baru diluncurkan beberapa hari lalu. Angga menambahkan mendapatkan infomasi terkait penambahan koridor berkat Instagram.  “Tahunya dari Instagram, makanya mending naik ini aja (TransJakarta),” ujar Angga, Jumat, 25 Oktober 2019. 

Selain itu, Angga menambahkan, dengan menaiki rute baru ini, ia mampu menghemat waktu untuk menuju Pulomas, Jakarta. Bahkan, ia juga tidak perlu repot untuk naik atau turun kendaraan. 

“Kalau sekarang, naik ini, nyambung naik LRT Jakarta, turun di Pulomas. Bedanya bisa 15-20 menit,” katanya. 

Untuk koridor terbaru ini, petugas pengendali bus TransJakarta, Eko, mengatakan operasional bus berlaku pada pukul 06.00-21.00 WIB. 

Dari segi jumlah armada di rute 10F, Kepala Divisi Sekretaris Koperasi dan Humas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta), Nadia Diposadjojo, mengatakan pihaknya mengerahkan lima unit bus Minitrans yang berkapasistas 30 orang untuk rute tersebut. 

Hal ini di lakukan karena rute terbaru itu disiapkan untuk integrasi antar moda, sekaligus mempermudah masyarakat yang ingin menunggunakan LRT Jakarta melalui Stasiun Manggarai. 

“Lima bus Minitrans dengan rute Non-BRT ini disiapkan untuk integrasi antarmoda transportasi bagi warga,” ujar Nadia Diposandjojo. 

Program selanjutnya 

Bus listrik Transjakarta buatan eropa.

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) memastikan bus listrik buatan Eropa akan digunakan untuk melayani warga DKI Jakarta. Hal tersebut dikatakan langsung oleh Direktur Utama PT TransJakarta, Agung Wicaksono, pada Jumat, 25 Oktober 2019.

TransJakarta juga akan menggandeng tiga merek bus ternama di dunia, seperti Mercedes Benz, Volvo, dan Scania dari Swedia. Selain mengandeng ketiga produsen tersebut, Agung mengatakan mobil listrik menjadi sebuah kebutuhan yang tren di masa depan. 

“Ternyata, bus listrik adalah memang bentuk tren masa depan dunia,” ungkap Agung. 

Meskipun seperti itu, Agung menambahkan bus besutan Eropa ini akan melalui uji standar layak pakai. “Syarat standar layak pakai operasional TransJakarta adalah ketahanan baterai dalam menjalankan bus listrik,” kata Agung. (*)

Bus TransJakarta asli lokal dengan merek Komodo. © Facebook.com/AAI Komodo (Indonesian Articulated Buses)

TransJakarta adalah sistem transportasi modern berupa bus rapid transit (BRT) yang kemudian lazim disebut dengan sebutan busway.

Disebut demikian, karena bus mempunyai jalurnya sendiri di jalan raya yang dipisahkan dengan separator di sejumlah titik.

Sistem transportasi umum satu ini merupakan jawaban atas kegundahan warga kota Jakarta yang mendambakan transportasi umum yang lebih layak.

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, kemudian mengadopsi sistem transportasi umum tersebut dari ibu kota Kolombia, Bogota, pada 15 Januari 2004.

"TransJakarta Busway itu dianggap sebagai titik awal transportasi massal ibu kota Jakarta yang aman, nyaman, cepat dan manusiawi," tulis Sutiyoso dalam bukunya yang berjudul Megapolitan.

Jenis bus yang dioperasikan saat itu yaitu bus tunggal HINO RG dan MERCEDES BENZ OH 1521 Intercooler berbahan bakar solar.

Antusiasme pun mengarah ke layanan perdana TransJakarta di mana antrean mengular di sejumlah halte Koridor 1 yang menghubungkan Blok M dan Kota (12,9 km).

Antrean yang panjang dianggap wajar karena selama dua pekan (15-30 Januari 2004) penumpang bisa naik secara gratis.

Barulah pada 1 Februari 2004, tarif TransJakarta mulai diberlakukan seharga Rp2000.

Pada 2012, Dinas Perhubungan DKI Jakarta memutuskan untuk menaikkan tarif TransJakarta seharga Rp3500 dan bertahan hingga 2020.

Sampai tahun 2020, TransJakarta terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Koridor terus ditambahkan di mana kini sudah mencapai 13 koridor ditambah layanan bus pengumpan dan terhubung dengan angkutan kecil (angkot) lewat program Jak Lingko.

---

Referensi: Sutiyoso, "Megapolitan"

Sumber : Foto: istimewa/dok. Transjakarta

Jakarta, MobilKomersial.com - Keinginan warga DKI Jakarta untuk memiliki transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau kini telah terwujud.

Ya, sejak 16 tahun lalu, tepatnya 15 Januari 2004, transportasi publik berbasis jalan lahir di Ibukota, Transjakarta namanya.

Tak terasa, dalam belasan tahun, bus yang populer disebut busway ini dirancang dan bertransformasi sebagai moda transportasi massal pendukung aktivitas warga Jakarta yang sangat padat. 

Sistem Tranportasi Bus Rapid Transport (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan ini mengadopsi sistem transportasi yang sama di Kota Bogota, Kolombia. 

Baca juga : Awal Februari, Transjakarta Wajibkan Pelanggan Tap In di Bus GR dan Bus Wisata

Melihat sejarahnya, Transjakarta pertama kali resmi beroperasi secara gratis pada 15 Januari 2004 selama dua minggu dengan mengujicoba satu koridor yaitu Blok M - Jakarta Kota. 

Saat itu, belum ada kemitraan penyedia transportasi yang bekerja sama antara pihak swasta dan pemerintah.

Selain itu juga pembinaan oleh pemerintah masih belum maksimal dan masih berorientasi pada keuntungan semata.

Baru pada 2004-2014, Transjakarta mulai dikelola oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perhubungan. Saat ini busway hanya beroperasi di jalur khusus dan berorientasi pada operasional.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi masyarakat Jakarta penumpang bus pasti sudah akrab dengan layanan TransJakarta. Artikel ini akan mengulas sejarah TransJakarta yang sudah jadi salah satu transportasi andalan masyarakat Jakarta selama 18 tahun.

Sebenarnya, ide pembangunan proyek Bus Rapid Transit (BRT) ini sudah muncul sejak tahun 2001. Namun, realisasinya baru dapat dilakukan 3 tahun setelahnya.

Saat diluncurkan, TransJakarta merupakan suatu sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Selatan.

Baca juga: Aturan Baru Jokowi: Direksi Wajib Tanggung Jawab jika BUMN Rugi

Koridor Pertama Transjakarta

Dilansir dari laman resminya, sistem BRT ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio di Bogota, Kolombia.

Saat itu, TransJakarta diklaim memiliki jalur lintasan terpanjang di dunia dengan 208 kilometer.

Transjakarta sendiri resmi menjadi transportasi publik di DKI Jakarta sejak 1 Februari 2004. Pada saat itu, kehadiran bus ini menjadi solusi dan mengubah wajah transportasi umum di Ibu Kota.

TransJakarta koridor I rute Blok M-Kota sepanjang 12,9 kilometer pertama kali diluncurkan pada tanggal 15 Januari 2004. Koridor ini sekaligus menjadi koridor tertua yang dimiliki TransJakarta.

Transjakarta diluncurkan melalui restu dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso. Saat itu, ia berharap TransJakarta dapat mengatasi kemacetan di pusat pemerintahan ini.

Baca juga: Sebelum Uji Coba Kelas Rawat Inap Standar, BPJS Kesehatan Usulkan 2 Kriteria Tambahan

Institute for Transportastion & Development Policy (ITDP) ditunjuk menjadi pihak yang mengiringi proses perencanaan proyek ini.

Pengelola Transjakarta

Pada awal kemunculannya, bus Transjakarta dikelola oleh Badan Pengelola Transjakarta Busway. BP Transjakarta Busway merupakan badan non-struktural yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 110 Tahun 2003.

Pengelolaan bus Transjakarta berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta sejak 4 Mei 2006. UPT ini bernaung di bawah Dinas Perhubungan DKI Jakarta sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 48 Tahun 2006.

Pengelolaan bus Transjakarta kemudian diserahkan ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bernama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) pada 27 Maret 2014.

Transjakarta juga bekerja sama dengan operator bus reguler mulai tahun 2011. PT Transjakarta terus berupaya memperbaiki layanannya dengan mengganti bus-bus reyot dengan armada baru.

Baca juga: Resmi, Tarif Listrik Pelanggan 3.500 VA ke Atas Naik Mulai 1 Juli 2022

Dalam pengoperasiannya, TransJakarta didukung beberapa perusahaan operator yang mengelola armada. Adapun, operator bus tersebut adalah PT Jakarta Trans Metropolitan (JTM), PT Primajasa Perdanaraya Utama (PP), PT Jakarta Mega Trans (JMT), PT Eka Sari Lorena (LRN), PT Bianglala Metropolitan (BMP), PT Trans Mayapada Busway (TMB), Perum DAMRI (DMR/DAMRI), Kopaja, Mayasari Bakti, dan Perum PPD.

TransJakarta memiliki sekurang-kurangnya 7 jenis bus yang dioperasikan. Jenis bus yang dapat ditemui di jalan antara lain adalah articulate bus, low entry bus, double decker bus, maxi bus, single bus, medium bus, dan mikrotrans.

Sampai tahun 2020, TransJakarta diketahui mengoperasikan total sebanyak 4.079 bus. Adapun, sebanyak 3.203 bus merupakan milik operator dan sebanyak 876 bus merupakan swakelola.

TransJakarta diketahui memiliki 13 koridor yang beroperasi hingga saat ini. Total, TransJakarta memiliki sekitar 200 jumlah halte.

Berdasarkan infografis dari TransJakarta terdapat 3 koridor terpadat layanan TransJakarta yakni koridor 1 (Blok M, Kota), koridor 9 (Pinang Ranti - Pluit), dan koridor 8 (Lebak Bulus - Harmoni).

Tarif awal tiket TransJakarta

Di awal kemunculannya pada Februari 2004, tarif TransJakarta dipatok seharga Rp 2.000 saja.

Seiring berjalannya waktu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta pada tahun 2012 memutuskan untuk menaikkan tarif TransJakarta menjadi Rp 3.500. Harga ini belum mengalami perubahan hingga saat ini.

Kemudian, sejak tahun 2013 sistem tiket pada halte TransJakarta menggunakan kartu elektronik sebagai pengganti uang tunai. Penerapan ini dilakukan bertahap hingga akhirnya pada 22 Februari 2015 pembayaran dengan akrtu elektronik ini berlaku di seluruh koridor Transjakarta.

Baca juga: Jokowi Resmi Naikkan Tarif Listrik Orang Kaya

Pada tahun 2016, TransJakarta resmi mengoperasikan bus khusus wanita yang berwarna pink. Peluncurannya dilakukan dalam rangka memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April.

Tak hanya bus khusus wanita, TransJakarta juga membuka lowongan untuk sopir bus wanita.

Sejak 2020, TransJakarta juga mulai menerima pembayaran tiket melalui QR Code dari penyedia dompet elektronik. Namun, saat ini pemabayaran baru dapat dilakukan menggunakan dompet elektornik LinkAja dan AstraPay.

Teranyar, Trans Jakarta diketahui mulai mengoperasikan bus listrik. Kehadiran bus ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan kualitas udara ibu kota hingga target untuk mencapat Nett Zero Emmision.

Penumpang dapat mencoba layanan baru bus listrik ini pada rute 1N (Tanah Abang-Blok M) dan 1P (Senen-Blok M).

Baca juga: Resmi, Tarif Listrik Pelanggan 3.500 VA ke Atas Naik Mulai 1 Juli 2022

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.